Harusnya Bangga Jadi Petani, Ini Alasannya

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +
Ilustrasi Petani/pixabay

KULIPENA – Judul diatas memang terdengar agak memaksa kalau dilihat dengan realita yang ada sekarang. Petani yang identik dengan kotor dan hidup susah menjadi alasan kenapa profesi ini makin kesini makin banyak ditinggalkan oleh masyarakat pada umumnya. Ya..banyak alasan kenapa masyarakat enggan memilih profesi jadi petani padahal semua yang kita konsumsi/makan seluruhnya jasa dari para petani dari mulai makanan pokok sampai cemilan.

Kita boleh saja bangga dengan kesuksesan atau karir yang anda raih terlebih bagi sebagian orang yang tinggal di kota-kota besar, tapi saat anda kembali ke meja makan coba sedikit merenung dan bayangkan sepiring nasi serta lauk pauk dan sayuran yang tersadi didepan anda dari manakah awalnya, bayangkan prosesnya sampai bisa berada di meja makan, jasa siapakah itu semua? ya semua setuju jawabannya adalah dari Petani.

Tapi kenapa kehidupan para petani sampai saat ini masih jauh dari kata makmur dan modern sehingga profesi ini bisa menjadi sebuah kebanggaan? jawabannya memang beragam tergantung darimana kita melihat dan menilai. Yang jelas mimpi jadi petani yang dihargai dan dihormati seperti di negara-negara maju rasanya masih penuh jalur berliku untuk mencapai kesana. Berbagai program yang digalakan oleh pemerintah lewat kementrian terkait masih belum bisa mengangkat harkat dan martabat petani di jaman yang serba digital ini, terlebih masuknya era milenial posisi petani seakan makin tenggelam dan jauh dari perhatian meskipun kini ada beberapa komunitas anak muda yang mulai merambah dunia pertanian dengan membuat aplikasi sehingga sudah mulai mengubah pandangan bahwa petani itu kotor, petani itu susah dan lain sebagainya.

Memang kalau dilihat atau diamati secara langsung ada beberapa faktor kenapa petani itu ketinggalan dan tidak banyak disukai oleh sebagian generasi muda saat ini. Dibawah ini beberapa faktor kenapa petani kita tertinggal dari negara-negara lain diantaranya :

1. Susah Merubah Kebiasaan

Kebiasaan memang terkadang membuat kita terpenjara pada situasi atau kondisi tertentu sehingga sulit untuk keluar dari zona tersebut. Tidak jarang para petani tau apa yang membuat mereka terpuruk atau jauh dari kata untung, tetapi sulit untuk merubah kebiasaan sehingga tetap hasilnya tidak maksimal. Hal ini contohnya sikap atau cara mengolah lahan dan cara bercocok tanam yang dijalankan sepertinya terlalu monoton dan gitu-gitu saja sehingga hasilnya pun tiap panen tetap sama bahkan tidak jarang yang terus merugi karena kebiasaan tadi yang sulit dirobah dan tidak mau melihat perkembangan yang ada sekarang.

Kondisi ini diperparah dengan jarangnya penyuluh pertanian yang terjun langsung ke pelosok-pelosok daerah sehingga apa yang didapat petani terutama dari segi ilmu pertanian sangat sulit dan mengakibatkan pola pikir serta kebiasaan petani tidak berubah.

2. Susah Menerima Hal Baru

Penyebab petani kita tertinggal juga diakibatkan susah menerima hal baru. Sebagai perumpaan para petani kita sudah terbiasa dengan pola mengolah lahan dengan instan dan tidak lagi memperhatikan apakah lahan tersebut masih subur atau tidak. Sawah misalnya, dengan terus menerusnya menggunakan pupuk berbahan kimia menjadikan kondisi kesuburan tanah semakin berkurang dan pastinya hasil panen pun tidak maksimal lagi. Tidak sedikit banyak yang menyarankan kepada para petani untuk mengubah cara pengolahan sawah tadi dengan memperbanyak bahan/pupuk organik untuk meningkatkan kembali tingkat kesuburan tanah.

Namun pada banyak kasus rupanya petani enggan untuk melakukan perubahan tersebut dengan berbagai alasan, terutama tidak mau berproses dan maunya serba cepat atau instan. Belum lagi sekarang sudah ada beberapa aplikasi yang sebenarnya bisa membantu dan mempermudah petani untuk bertani lebih efektif, modern dan dapat meningkatkan penghasilan lebih baik lagi, tetapi sepertinya perlu kerja keras bagi para penyuluh atau dinas terkait untuk dapat meyakinkan kepada para petani tentang hal-hal baru atau ilmu-ilmu baru agar mereka mau merubah cara pandang yang nantinya dapat merubah kebiasaan lama menjadi lebih baik.

3. Kurang Improvisasi

Cara lain untuk keluar dari kesulitan atau kebiasaan yang membuat petani sulit untuk bersaing di era digital ini adalah dengan melakukan improvisasi baik dalam cara bertanam atau mengolah hasil pertanian itu sendiri. Sebagai contoh disuatu daerah sangat terkenal dengan Jengkolnya, dan terkadang harganya bisa mengalahkan daging Sapi dipasaran. Namun harga tersebut tidak pernah stabil dan seringnya harga-harga hasil bumi seperti Jengkol sering anjlok apabila panen melimpah dari tiap daerah. Nah semestinya para petani dapat melakukan Improvisasi untuk mengakali bagaimana agar mereka tetap bisa merasakan hasil taninya dengan tidak ketergantungan pasar belaka.

Petani diharapkan mampu membaca situasi dan kondisi pasar yang ada agar tidak tertinggal oleh petani dari negara lain. Tentunya itu semua tidak mudah karena hampir sebagian besar para petani kita dari segi pendidikan mayoritas masih tertinggal sehingga sering kesulitan untuk bisa keluar dari berbagai kesulitan serta permasalahan yang mereka hadapi.

Dengan mudahnya akses informasi terutama internet diharapkan para petani kita dapat terdorong untuk melakukan perubahan atau improvisasi guna meningkatkan hasil panen dan pendapatan agar dapat merubah kondisi perekonomian di desa-desa yang nantinya mampu setara dengan golongan masyarakat perkotaan.

4. Cepat Putus Asa

Kendala lain yang mengakibatkan kondisi petani kita memprihatinkan adalah salah satunya cepet putus asa. Dibanyak kasus dilapangan terkadang kita melihat seorang petani enggan melanjutkan bercocok tanam apabila pas waktunya panen hasilnya tidak sesuai harapan. Tidak sedikit banyak petani yang meninggalkan ladang atau sawahnya karena alasan “Panen Merugi” padahal kalau dikaji lebih dalam sering kali dari pola yang mereka lakukan dalam bercocok tanam tidak mengindahkan aturan bertani yang benar sehingga hasilnya merugi dan celakanya mereka tidak mau mengevaluasi kenapa itu semua bisa terjadi. Dengan kata lain sikap cepet putus asa lebih dominan ketimbang mencari solusi agar bisa memecahkan masalah tersebut. Sikap seperti ini tentunya berakibat posisi petani tidak beranjak dari kondisi yang ada sekarang.

5. Tidak faham Manajemen

Petani kalau mendengar kata Manajemen rasanya sudah ciut duluan karena mereka berpikir “Manajemen” hanya berlaku pada perusahaan-perusahan yang berada di kota. Hal ini yang mengakibatkan kenapa petani kita cukup tertinggal jauh dibanding negara-negara tetangga misalnya saja Thailand atau Malaysia yang masih serumpun.

Kebanyakan petani kita masih berpola tradisional dan turun temurun sehingga lebih lambat dalam hal manajemennya. Kalau dinegara lain seorang petani sudah bisa dihargai dan menjadi profesi yang dibanggakan karena mereka bisa terhormat dengan hasil yang mereka dapatkan. Petani di negara lain sudah bisa setara kehidupannya dengan mereka yang bekerja dikantoran. Hal ini tentunya diakibatkan para petani sudah mampu mengaplikasi sistem manajemen baik dalam mengolah maupun menjual hasil pertaniannya, dengan kata lain mereka sudah bisa disebut petani modern yang bisa menyesuaikan dengan perubahan jaman yang serba cepat dan instan seperti sekarang ini.

Untuk bisa keluar dari zona merah tentunya para petani seharusnya sudah bisa merubah pola pandang, pola pikir sehingga mampu membuat perubahan yang signifikan agar bisa memanfaat setiap kemajuan teknologi demi meningkatkan hasil panen sehingga merubah pula taraf hidup para petani yang akhirnya mampu mensejajarkan diri dengan para petani dari negara-negara lain.

Kedepannya para petani kita harus mampu menjadi tuan dinegerinya sendiri, tidak lagi mendengan kata impor komoditas dari negara tetangga karena petani kita juga sejatinya mampu untuk bersaing. Kondisi ini memang tidak mudah perlu adanya semangat kebersamaan serta berkesinambungan untuk membuat perubahan dan harus dimulai dari para pemangku jabatan yang erat dengan dunia pertanian.

Kedepannya kita berharap semoga profesi sebagai seorang petani itu dapat dibanggakan karena sejatinya dari jasa para petanilah kita bisa bisa menikmati hidangan yang enak di meja makan, itu sederhananya tetapi harapan besarnya kita bisa membuat para petani itu mendapatkan tempat yang terhormat di strata kehidupan yang nyata ditengah isu perkembangan jaman yang serba cepat dan digital seperti sekarang ini.

Share.

About Author

Leave A Reply