Ratna Sarumpaet Jadi Tersangka, Ini Pasal Yang Bisa Menjerat Dirinya

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

KULIPENA – Berita bohong yang direkayasa Ratna Sarumpaet berbuntut panjang, tidak hanya dia dicap membohongi publik tetapi pihak Kepolisian telah menjadikan Ratna Sarumpaet jadi tersangka atas tuduhan membuat keonaran.

Sebelumnya Ratna Sarumpaet pernah mendatangai Rumah Sakit Bina Estetika di Menteng, Jakarta Pusat pada 21 September 2018 lalu. Ratna mengungkapkan bahwa kedatangannya kesitu adalah untuk melakkan sedot lemak pada bagian pipi kanan dan kirinya, seperti yang dia sampaikan pada saat konferensi pers dirumahnya, Kampung Melayu.

Setelah operasi dijalankan pada tanggal 21, pada tanggal 22-nya saya melihat muka saya lebam-lebam secara berlebihan, tidak seperti biasanya. Saya tanya ke dokter Sidik, ‘Ini kenapa?’ ‘Itu biasa,’ katanya,” kata Ratna. Seperti yang diberitakan oleh detik.com.

Atas kondisi wajahnya yang terlihat lebam-lebam Ratna Sarumpaetpun pun mendapatkan pertanyaan dari sang anak dan disitulah dia mulai merangkai cerita bahwa mengaku telah terjadi penganiayaan sehingga membuat anaknya penasaran dan terus mencari kebenaran berita yang dikembangkan oleh ibunya.

Ratna sendiri mengaku terus mengembangkan kebohongan yang dibuat sendiri itu sehingga berujung polemik karena melibatkan para elit politik termasuk Calon Presiden Prabowo Subianto dan para petinggi dari elit Gerindra yang sebelumnya sempat percaya apa yang dikatakan Ratna pada saat itu.

Tidak tahan dengan kondisi tentang pemberitaan dirinya, akhirnya Ratna mengakui telah menyebarkan kebohongan soal kisah lebamnya itu. Kini ratna harus menanggung akibatnya dan dinyatakan telah melanggar hukum atas tuduhan pembuat keonaran.

Berikut kutipan Pasal 14 dan 15 Undang-undang Peraturan Hukum Pidana No 1/1946:

Pasal 14:
(1) Barang siapa, dengan menyiarkan berita atau pemberitahuan bohong, dengan sengaja menerbitkan keonaran di kalangan rakyat, dihukum dengan hukuman penjara setinggi-tingginya sepuluh tahun.
(2) Barang siapa menyiarkan suatu berita atau mengeluarkan pemberitahuan, yang dapat menerbitkan keonaran di kalangan rakyat, sedangkan ia patut dapat menyangka bahwa berita atau pemberitahuan itu adalah bohong, dihukum dengan penjara setinggi-tingginya tiga tahun.

Pasal 15:
Barang siapa menyiarkan kabar yang tidak pasti atau kabar yang berkelebihan atau yang tidak lengkap, sedangkan ia mengerti setidak-tidaknya patut dapat menduga, bahwa kabar demikian akan atau mudah dapat menerbitkan keonaran di kalangan rakyat, dihukum dengan hukuman penjara setinggi-tingginya dua tahun.

Namun, ada juga yang melaporkan Ratna dengan pasal yang diatur dalam UU No 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Salah satunya Farhat Abbas yang melaporkan Prabowo Subianto Cs karena turut menyiarkan kabar bohong. Farhat melaporkan Prabowo karena dianggapnya melanggar pasal 28 UU ITE.

Pasal 28 UU ITE berbunyi:

Setiap orang dengan sengaja, dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi Elektronik.

Share.

About Author

Leave A Reply